Jumat, 25 Januari 2013

Riuh di Masalalu "2010"



 Semilir desah angin malam menyapa lembut, keheningan semakin memeluk jiwa yang bernyanyi kidung cinta.
Nafas- nafas perusuhpun sepertinya enggan berdesus menyambut panggilanku.
Dibawah kelamnya langit malam, tinta ini menari melenggok mencurah rasa jiwa tak mampu terucap sang mulut.
Semakin bergerak elastis mengikuti irama jiwa.
Nada- nada indah mulai diperdengarkan hewan malam yang menciut memecah keheningan.
Sang bulan enggan bersinar dan rangkaian bintang- bintang enggan berkedip.
Kesunyian malam ini meredam gejolak jiwa yang semakin memakan pengharapan.
Seorang jiwa yang aku sayang, sepertinya tak akan mendengar jerit hati ini.
Bahwa aku memanggilnya, membiarkan dia masuk ke dalam mimpi- mimpi malam sepiku.
Mulut ini selalu terbata untuk mengungkap rasa, semua rasa yang ada dalam jiwa ini.
“jujur aku menyayangimu” itu yang selalu ingin aku ucap ketika aku di hadapanmu.

Kamis, 24 Januari 2013

Samar dan Tanpa Arah



Halloo mentari pagi.. tampaknya dirimu hari ini terlihat malu untuk tersenyum bersinar cerah .. atau mungkin awan- awan hitam itu terlalu jahat menutupi keindahnmu ?
Semua hanya bisa ditebak dengan perkiraan singkat .. perkiraan? menebak mungkin tepanya seperti itu ..  kamu tahu ? siapa yang akan melihatmu tersenyum ? “percakapan semu antara sang mentari” dan yah tanpa jawaban ,, haa ... dan saat itu waktu yang tepat untuk menertawakan diri sendiri ,, hal konyol yang bisa dilakukan oleh manusia- manusia yang mungkin lebih konyol ,, :D
Selalu dengan imaginasi- imaginasi kosong .. hmmm semuanya kosong dan isinya kemana ? “isinya hanya ada di sini dalam pikiran makhluk kosong”. Banyak hal yang tidak akan bisa membuat orang lain enggan berkata ini aneh.. karna memang ini aneh.. Aku melihat hal yang mungkin tidak dengan apa yang mereka lihat ,,
Berucap dengan hal yang sangat mereka tidak ucapkan ,, lalu aku siapa ? “aku hanya makhluk kosong” celoteh yang keluar hanyalah seperti itu ,, “makhluk kosong” .. :D
Nyaman dengan segala ke anehan, lalu bagaimana dengan mereka saat mereka mulai berceloteh sesuai kreasi mereka ? “biarkan dan lihat” hal yang simple yang bisa dilakukan semua orang .. karna tetap aku pun sama seperti mereka ,, sama dan tidak ada yang beda “sedikit memperjelas”.
 Hal yang sering dilakukan untuk bercakap dengan pribadiku ,, mungkin ini gila ,, wooooow yah ini sangatlah gila ,, bercakap riang dengan pribadi sendiri ? apa ini tidaklah gila ? “yah ini gila”. Kembali orang- orang akan menebak semuanya dengan pandangan yang sama, mungkin J
Tapi inilah hal yang akan membuat diri itu beda dari orang- orang yang bisa dan sangat bisa untuk mengkritik .. sang pengkritik “itulah sang pengkritik”.. seperti pemberontak yang ada di tengah lautan lepas .. pembajak yang garang dan serakah ,, rakus mungkin lebih dari itu ..
Lalu apa yang akan di hadapi pribadi itu untuk tetap dengan ke anehan dan ke gilaannya ? “lakukan lagi ,, lakukan lagi ,, lakukan lagi” dorongan terkuat dari hati kecil yang berteriak ..(berdemo mungkin).. :D
Hmmm ada hal yang selalu mereka pandang dari sudut kegilaan mereka ,, berpikir singkat tetapi mampu mebuat kesimpulan yang sangat berderet rapih.. deretan panjang dan sangat panjang itulah kesimpulan yang mereka buat ,, “apa ini yang lebih aneh ? berpikir singkat tetapi menghasilkan kesimpulan yang sangat panjang”
Kalau akal pribadi itu tetap dalam bersih tetaplah semua tidak akan seperti itu ,, #pemberontakan apa lagi ini ?

Udara Tanpa Wujud



Tetaplah udara itu ringan tetapi selalu menjadi penyejuk.
Yah semuanya seperti tanpa wujud hampir mirip dengan sosok yang menghilang menjadi bayangan.
Udara- udara yang selalu menggerakan jiwa- jiwa hampa.
Selalu hadir meniupkan hawa- hawa dingin kedamaian dan seketika mungkin hawa panas pun akan ditiupkannya.
Udara dengan segala pengharapan,,
Udara  dengan segala impian,,
Udara kehidupan ..
Udara kematian..
Dan segala udara kehampaan.
Udara- udara kosong tanpa suara dan lirih lembut..
Yang ada hanya desah daun yang saling bergesek..
Daun- daun kering.
Yah hanya daun kering yang mampu mendesah..
Ini hanya cerita lirih piluh sang udara yang tidak mampu menerobos celah- celah kosong sang pengharap.


Jumat, 02 Desember 2011

SEMUA SAMA



            Semua sama saat aku memulai kehidupan dipagi hari, terbangun dari tidur sepanjang malam dan melakukan hal yang setiap hari wajib masuk dalam jadwal rincian kegiatanku. Bangun menuju kamar kecil untuk mengambil air wudlu dan melakukan gerakan- gerakan yang Allah serukan yaitu Shalat. Bersiap menuju tantangan yang akan dihadapi awal mula debaran jantung mulai berdegup “hari ini apa yang terjadi ?” pertanyaan yang setiap orang pasti mengucapkannya setiap hari, begitupun aku , aku sama seperti orang lain itu.
            Melihat sejenak diri dicermin “apa yang kurang untuk persiapan melewati hari ini ?” pertanyaan kedua yang terucap dari bibir kelu ini. Sedikit tersenyum dan memastikan bahwa aku siap untuk tantangan yang akan datang. (*,*)
            Mulai melangkah hati-hati untuk memastikan bahwa langkahku kuat dan yakin,, melewati jalan yang sama ,, bertemu dengan gedung- gedung yang sama,, bertemu dengan pengemis yang sama dan orang cacat yang berjalan tanpa satu kaki,, hal yang tidak pernah bisa aku lepaskan dari pandanganku,, bahkan suatu ketika aku bertemu dengan motor yang plat nomornya hanya beda sati dijit, dengan kode daerah sama percis dengan motor kesayanganku..
            Begitupun sesampainya dikampus aku bertemu dengan gerbang yang sama dan tempat parkir yang biasa aku gunakan untuk memarkirkan sahabat setiaku. Bertemu dengan teman- teman yang sama dan bahkan bertemu dengan jajanan- jajanan yang sama pula..
            Tempat utama dikampus adalah ruangan kuliah,, papan tulis yang sama dan teman yang sama yang selalu ada disamping bangkuku..
Semuanya sama ,, semuanya sama ,, perasaan bosan muncul saat kejenuhan memeluk erat pikiranku,,
            Setiap hari saat ada di jalan menuju rumah selalu ada harapan yang tidak pernah terlupakan “aku hanya ingin sesuatu yang beda untuk hari esok..” tapi apa yang terjadi ? semua tetaplah sama seperti sebelumnya (-,-)

Belajar Dari Tukang Parkir


Kisah ini saya ambil dari seorang tukang parkir yang setiap hari saya temui di jalan menuju rumah, tepatnya disebuah tikungan tajam yang kalau kita berada dari arah yang berbeda kita tidak bisa melihat ada mobilkah, motor, atau bahkan orang- orang yang hendak melewati jalan tersebut.
            Seorang laki- laki tua yang usianya bisa diperkirakan menginjak 60 tahun lebih. Dengan tinggi badan semampai dan sedikit gemuk, mungkin beliau adalah satu- satunya tukang parkir tertua disana. Setiap kali saya melewati jalan tersebut saya selalu memperhatikan beliau. Dan setelah saya lihat beliau sudah tidak kuat lagi kalau harus berlari saat ingin mengetahui si pengendara mobil tentang keadaan jalan dilain arah. Yah mungkin karena beliau sudah terlalu tua untuk bekerja seperti itu, kakinya tidak tegak lagi karena kalau beliau jalan kakinya seperti sudah mulai kaku untuk melakukan langkah- langkah yang kuat.
            Mungkin maksud saya bukan untuk menyoroti lebih jauh tentang bapak tua itu, tapi disini saya ingin mencurahkan rasa iba saya kepada beliau yang bisa dikatakan tidak seharusnya beliau ada disana. Beliau bekerja tidak bisa memastikan berapa pundi- pundi uang yang bisa dikumpulkan setiap harinya ? yaah karena pendapatannya tidak menentu. Yang paling membuat saya merasa teriris adalah saat beliau berusaha berlari dengan kondisinya yang seperti itu kadang si pengendara mobil dengan percaya dirinya berlalu begitu saja tanpa memberikan sepeser uangpun kepada beliau.
            Keikhlasan yang bisa saya petik dari beliau,  kadang kita baru melakukan hal yang sepele saja minta upah ,, bayaran atau apalah namanya.. Tapi ini beliau lakukan setiap harinya.
Untuk sebuah pernungan saja bagi kita ,, ,, saat kita menganggap kecil kepada orang lain belum tentu hatinya juga kecil atau bahkan hatinya lebih lapang ,, lebih dari hati yang kita miliki..
Ikhlas modal yang baik untuk sesuatu yang baik ,,
Ayoo simpanlah sifat iklhlas dan terapkan dalam menghadapi semua pekerjaan yang hendak kita lakukan insya Allah, Allah melihat sekecil apapun keikhlasan kita ,,
Mari belajar ikhlas bersama- sama J